siang itu cuaca jogja sangat terik. cukuplah untuk membuat kulit putih
memerah karena sengatannya. Moy -panggilan akrab Moya- tengah bersiap
untuk berangkat ke kampus yang letaknya sekitar 10 km dari rumahnya.
Sambil menyiapkan peralatan kuliahnya, Moy memanaskan motornya yang
sudah sekian hari tak dipakainya karena libur panjangnya.
"ayah, ibu, moya berangkat kuliah yaa .. !" pamit Moya pada orangtuanya yang tengah menyantap makan siang.
"iya moy, hati-hati di jalan, Nak!" jawab ibunya sambil setengah berteriak.
tak kurang dari 20 menit, Moya sampai di parkiran kampusnya yang cukup
sejuk dengan pepohonan yang rindang. Pepohonan tersebut sengaja di tanam
di parkiran kendaraan roda dua agar tercipta parkiran yang sejuk dan
nyaman. di parkiran ini sengaja tidak dibuat atap atau penutup, sehingga
ketika hujan resikonya ya kehujanan begitu juga jika matahari sedang
membahagiakan manusia.
"hai Moy!", terdengar suara seorang pria dari arah belakang. Spontan Moya langsung memutar kepalanya ke belakang.
"eh hai, Jim!" balas Moya dengan senyum tulusnya.
"kuliah, Moy?" tanya pria yang biasa dipanggil Moya dengan sebutan Jimmy.
"iya nih, kamu?"
"haha, yang semangat, Moy! Aku? Nih mau ngumpulin source code ke mbak
Dila", kata jimmy sambil memperlihatkan sebuah map hijau yang sudah
dibawanya dari tadi.
"ohh, ehh Jim, q duluan yaa! Bye!" pamit Moya sambil berlari meninggalkan Jimmy.
"hati2 Moy!" balas Jimmy sambil tersenyum kecil memperhatikan Moya berlalu dari pandangannya.
------------------------------------------------------------------------
Malam selasa yang indah. Bulan purnama yang sempurna, bintang-bintang
yang seolah memamerkan kilauan cahayanya, dan sesekali terlihat cahaya
melesat cepat yang biasa disebut "bintang jatuh". Moya memandangi langit
itu sambil berharap pria yang ada disampingnya mempunyai niat baik
untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada. Sambil sesekali Moya
menghela nafas berat dan panjang, ia menatap pria itu kemudian kembali
memandangi langit yang cantik itu.
"Jadi apa tujuan kau mengajakku kemari? Hanya menyuruhku memandangi
langit itu?" Moya mencoba mencairkan suasana. Ia tak suka bila harus
terdiam terlalu lama untuk hal yang tak seharusnya ia diam.
"hha?" pertanyaan Moya seperti membangunkan Cahyo dari lamunannya.
"Iya, alasanmu membawaku ketempat ini untuk apa?" Moya mengulangi pertanyaannya dengan malas.
Cahyo menatap Moya dengan penuh arti, namun yang ditatapnya tak kunjung
sadar. "Hh, entahlah Moy. Aku juga tak mengerti mengapa aku harus
membawamu ketempat yang indah seperti ini."
"Jawaban apa itu? Tidak ada ketegasan di dalamnya! Hei! Kau itu lelaki,
tegaslah dalam bicara." Kata Moya sedikit menahan emosinya. "Mau sampai
jam berapa kita terdiam seperti ini?" Lanjutnya.
"..."
Keheningan itu pun terjadi lagi. Mereka bertatapan dan sesekali mengalihkan pandangan mereka kearah yang lain.
Tak berapa lama terdengar suara dering telepon milik Moya. Dilihatnya
layar HP, "Andrea", sahabatnya di kampus. sedikit mengatur nafas dan
emosinya, kemudian di angkatnya telepon dari Andrea.
"Iya And?" Sapa Moya pada penelpon itu.
"Ohh, terus gimana ?" Lanjut Moya.
"..." Diam, mendengarkan sambil nampak berfikir.
"hmm.. Terus?" Tanya Moya kembali.
"hahahahah! Terus terus?" Sesekali Moya menertawakan Andrea yang bercerita di seberang
"ehem.. ehem.." Cahyo berdeham sambil melirik Moya yang asyik dengan teleponnya.
"Ohh, engga lagi sama Cahyo. Di ajakin ke taman bintang. Tapi dibuang."
Jelas Moya sambil dengan menekankan kata "diajak" dan "dibuang".
"Iya deh, nanti aku ke rumahmu And kalau aku diantar pulang."
Usai telepon ditutup, Cahyo meraih tangan Moya. Digenggamnya tangan Moya
dengan erat. Seolah ia tak ingin pergi dan ditinggalkan Moya. Cahyo
memandangi wajah Moya dengan penuh sayang. Ditatapnya dalam-dalam mata
Moya yang kecil namun tidak sipit, ketika tersenyum akan membentuk bulan
sabit. Moya terkesiap dengan perlakuan Cahyo. Jantungnya berdegup
kencang, matanya melotot tapi tetap nampak kecil. "Please, jangan
sekarang. Please!" Ucap Moya dalam hati.
"Moy.." Cahyo mulai berbicara. Tangan kanannya menyentuh pipi Moya
secara perlahan. "Aku sayang kamu.." Seketika kalimat itu membuat Moya
menjadi lemas. Namun Cahyo menggantungkan kalimat tersebut. Cahyo tak
melanjutkan kalimatnya. Ia terdiam. Merogoh kantong di jaketnya. Mencari
sesuatu.
"Hanya itu yang ingin kau katakan?" Melepas genggaman Cahyo, beranjak
berdiri dari tempatnya tadi ia duduk. "Kita pulang.."Lanjut Moya dengan
senyum yang nampak dipaksakan.
Melihat Cahyo tak kunjung berdiri, Moya sedikit geram. "Udah malam,
antar aku kerumah Andrea. AYOK!" Moya menarik tangan Cahyo dengan paksa.
Sebuah kotak kecil terjatuh dan berlari dari genggamann Cahyo yang
menemukannya dikantong jaketnya. Keduanya terdiam tak bergerak.
Mematung. Cepat-cepat Cahyo mengambil kotak kecil tersebut tepat di
depan kaki Moya. Moya yang tak tahu menahu soal isi kotak itu hanya
terdiam kaku.
"Sudah ayok kita pulang!" Ajak Moya kembali.
------------------------------------------------------------------------





0 komentar:
Posting Komentar