"titip bara ya nak" begitulah akhir kalimat yang ku dengar ketika aku hendak melangkahkan kakiku menuju teras kamarnya. Beliau adalah ayah dari bara. dilihat dari kacamata yang ku pakai, mungkin umur beliau sekitar 50 hingga 60an. meskipun tak nampak jelas kerut diwajahnya (aku memperhatikannya tanpa kacamataku). pembicaraan kami sebelumnya pun tak terlihat aktif, aku lebih banyak diam karena aku tak tahu harus berkata apa.
Tenang.. Nyaman.. Terikat.. yah itu yang ku rasa setelah pertemuan pertamaku dengan beliau. entah bagaimana tapi aku merasakan kami terikat, meskipun status kami telah berubah. satu hal yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya adalah "apakah beliau tahu bahwa hubungan kami telah kandas ?", entahlah.
sepenggal lagu itulah yang entah mengapa mengingatkan dan membuat goresan luka baru. hanya sebuah lagu! Tuhan, aku mengerti ini jalan terbaik bagi kami. sesekali aku memperhatikan handphone-ku yang terletak di meja samping tempat tidurku. tak ada satupun sms darinya yang aku terima. haruskah aku yang memulai menghubunginya? bagaimana kalau begin? bagaimana kalau begitu? dan puluhan pertanyaan yang semakin membuatku jenuh.
aku tak pernah berharap tentang bagaimana hubungan kita selanjutnya. aku tahu kau memberiku harapan dan sampai saat ini pun kau masih berharap. namun aku tak tahu akan sampai kapankah harapan itu bersemanyam di dalam dirimu.





0 komentar:
Posting Komentar